MUMTAZ
Tarbiyatul Aulad Mumtaz Majenang

Para Da’i Pecandu Rokok

14

Mumtaz.web.id – Berhati-hatilah terhadap para da’i pecandu rokok. Pengemban risalah dakwah Islam adalah da’i yang memikul tugas agung dan mulia, sehingga Allah tidak membebankan kepada sembarangan orang untuk menjalankannya.

Orang-orang yang pertama kali Allah percayakan untuk mengemban amanat ini adalah para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalaam, kemudian para ulama Rabbani (orang berilmu yang sejati) sebagai pewaris ilmu para Nabi.

Mereka menjadi panutan dan teladan bagi manusia. Pandangan manusia tertuju kepada mereka, gerak-gerik, sifat, dan kebiasaanya menjadi sorotan di masyarakat.

Namun, karena jauhnya masyarakat dari ilmu Syar’i maka banyak di antara mereka yang salah kaprah dalam mencari panutan, sehingga menyebarlah para da’i gadungan yang jauh dari  akhlaq Islami, seperti para da’i perokok.

Berikut ini akan dipaparkan beberapa hukum syar’i  menyangkut da’i yang suka merokok:

Pertama: Seorang da’i atau kiyai perokok tidak pantas untuk dijadikan guru atau pengajar agama. Karena diantara syarat sebagai seorang guru agama adalah memiliki standar keislaman dan keimanan yang baik.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

من حسن إسلام المرء تركة ما لا يعنيه

Diantara indikasi baiknya keislaman seseorang adalah meningggalkan sesuatu hal yang tidak bermanfaaat baginya.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Pelajaran dari Hadits ini adalah  bahwa:

1. قال العلماء: أهم ما يعنيك فعل الواجبات، وأهم ما لا يعنيك فعل المحرمات، فمن حسن إسلام المسلم تركه ما لا يجوز له فعله؛ لأنه لا يعنيه، فترك المحرمات والمكروهات، وترك الكبائر والصغائر مما يعني الإنسان تركه

1. Para ulama mengatakan, ”Perbuatan bermanfaat yang paling utama untuk kamu lakukan adalah melaksanakan yang wajib. Dan perbuatan sia-sia yang paling utama untuk ditinggalkan adalah perbuatan haram. Maka, diantara indikasi dan standar baiknya keislaman seseorang yaitu  meninggalkan sesuatu yang terlarang dalam agama. Dengan demikian, meninggalkan hal-hal yang haram dan yang makruh (dibenci), dan meninggalkan dosa besar dan dosa kecil termasuk sesuatu yang bermanfaat jika seseorang meniggalkannya.

2. أن من لم يترك ما لا يعنيه فإنه ضعيف إيمانه وإن من كمال إيمان العبد تركه ما لا يهمه من الأقوال والأفعال

2. Orang yang tidak meninggalkan sesuatu yang tidak bermafaat baginya adalah orang yang lemah imannya. Sebaliknya, diantara indikasi kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, baik dari segi perkataan maupun perbuatan.

Seseorang yang lemah imannya bagaimana mungkin  bisa menjadi seorang da’i yang seharusnya menjadi dokter hati bagi mad’unya (jama’ahnya) yang butuh siraman keimanan dengan ilmu dan akhlaq mulia?

Jika seorang da’i yang masih sibuk dengan aktifitas dan permainan yang tidak berguna sudah diragukan kesholihannya dan bisa mengurangi kewibawaannya sehingga orang lain tidak mau belajar darinya, lantas bagaimana dengan seorang da’i yang jelas-jelas melakukan perbuatan haram seperti merokok?

Tentu keimanannya bisa dikatakan rusak (sangat kurang). Lalu bagaimana dia bisa memperbaiki keimanan orang lain sementara imannya sendiri rusak.

Allah ta’ala berfirman,

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Baca Selengkapnya: http://sofyanruray.info/awas-dai-gadungan-pecandu-rokok/
Ustadz Hendra Abu Dihyah, Lc hafizhahullah

Komentar
Loading...