MUMTAZ.web.id http://www.mumtaz.web.id .: Blog dan Info Pendidikan Anak Pra Sekolah Dasar Berbasis Islam di Majenang :. Mon, 09 Oct 2017 16:06:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.8.4 http://www.mumtaz.web.id/wp-content/uploads/2016/12/cropped-LOGO-MUMTAZ512-32x32.png MUMTAZ.web.id http://www.mumtaz.web.id 32 32 Puasa Daud, Puasa Yang Paling Disukai http://www.mumtaz.web.id/puasa-daud-puasa-yang-paling-disukai/ http://www.mumtaz.web.id/puasa-daud-puasa-yang-paling-disukai/#respond Mon, 09 Oct 2017 16:03:11 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1785 Mengenai puasa Daud, Puasa Yang Paling Disukai di sisi Allah. Puasa Daud adalah melakukan puasa sehari, dan keesokan harinya tidak berpuasa.

The post Puasa Daud, Puasa Yang Paling Disukai appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>

MUMTAZ.web.id – Mengenai puasa Daud, Puasa Yang Paling Disukai  di sisi Allah. Puasa Daud adalah melakukan puasa sehari, dan keesokan harinya tidak berpuasa. Semoga bermanfaat.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari“.

Faedah hadits:

1. Hadits ini menerangkan keutamaan puasa Daud yaitu berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) keesokan harinya. Inilah puasa yang paling dicintai di sisi Allah dan tidak ada lagi puasa yang lebih baik dari itu.

2. Di antara faedah puasa Daud adalah menunaikan hak Allah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menunaikan hak badan yaitu dengan mengistirahatkannya (dari makan).

3. Ibadah begitu banyak ragamnya, begitu pula dengan kewajiban yang mesti ditunaikan seorang hamba begitu banyak. Jika seseorang berpuasa setiap hari tanpa henti, maka pasti ia akan meninggalkan beberapa kewajiban. Sehingga dengan menunaikan puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak), seseorang akan lebih memperhatikan kewajiban-kewajibannya dan ia dapat meletakkan sesuatu sesuai dengan porsi yang benar.

4. Abdullah bin ‘Amr sangat semangat melakukan ketaatan. Ia ingin melaksanakan puasa setiap hari tanpa henti, begitu pula ia ingin shalat malam semalam suntuk. Karena ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi solusi padanya dengan yang lebih baik. Untuk puasa beliau sarankan padanya untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya. Namun Abdullah bin ‘Amr ngotot ingin mengerjakan lebih dari itu. Lalu beliau beri solusi agar berpuasa sehari dan tidak berpuasa keesokan harinya. Lalu tidak ada lagi yang lebih afdhol dari itu. Begitu pula dengan shalat malam, Nabi shallallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk seperti shalat Nabi Daud. Nabi Daud ‘alaihis salam biasa tidur di pertengahan malam pertama hingga sepertiga malam terakhir. Lalu beliau bangun dan mengerjakan shalat hingga seperenam malam terkahir. Setelah itu beliau tidur kembali untuk mengistirahatkan badannya supaya semangat melaksanakan shalat Fajr, berdzikir dan beristigfar di waktu sahur.

5. Berlebih-lebihan hingga melampaui batas dari keadilan dan pertengahan dalam beramal ketika beribadah termasuk bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) yang tercela. Hal ini dikarenakan menyelisihi petunjuk Nabawi dan juga dapat melalaikan dari berbagai kewajiban lainnya. Hal ini dapat menyebabkan seseorang malas, kurang semangat dan lemas ketika melaksanakan ibadah lainnya. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

6. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Daud sebaiknya hanya dilakukan oleh orang yang mampu dan tidak merasa sulit ketika melakukannya. Jangan sampai ia melakukan puasa ini sampai membuatnya meninggalkan amalan yang disyari’atkan lainnya. Begitu pula jangan sampai puasa ini membuatnya terhalangi untuk belajar ilmu agama. Karena ingat di samping puasa ini masih ada ibadah lainnya yang mesti dilakukan. Jika banyak melakukan puasa malah membuat jadi lemas, maka sudah sepantasnya tidak memperbanyak puasa. … Wallahul Muwaffiq.”

7. Tidak mengapa jika puasa Daud bertepatan pada hari Jumat atau hari Sabtu karena ketika yang diniatkan adalah melakukan puasa Daud dan bukan melakukan puasa hari Jumat atau hari Sabtu secara khusus.

 

Referensi:
  • Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan ketiga, 1424 H.
  • Penjelasan Syaikh ‘Ali bin Yahya Al Haddadi di website pribadinya haddady.com

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com

The post Puasa Daud, Puasa Yang Paling Disukai appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/puasa-daud-puasa-yang-paling-disukai/feed/ 0
Niat Ketika Ingin Beramal http://www.mumtaz.web.id/niat-ketika-ingin-beramal/ http://www.mumtaz.web.id/niat-ketika-ingin-beramal/#respond Thu, 05 Oct 2017 09:55:24 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1762 Niat seseorang ketika ingin beramal ada beberapa macam

The post Niat Ketika Ingin Beramal appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Niat seseorang ketika ingin beramal ada beberapa macam:

[Pertama] Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka orang semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin. Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat.

[Kedua] Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

[Ketiga] Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal sholeh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

 

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

[Pertama] Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.

Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

[Kedua] Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun, jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlash, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya karena syari’at telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi –rahimahullah- membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk kesyirikan, seseorang beribadah untuk mencari dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia

keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun, Keduanya termasuk amalan kepada selain Allah Ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar). Keduanya memiliki peredaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan sholeh lainnya dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia semacam mendapat rizki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi, keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah Ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlash Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlash kepada-Nya niscaya dunia pun akan menghampirinya tanpa mesti dia cari-cari. Namun, jika seseorang mencari-cari dunia dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadi renungan bagi kita semua,

 

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah –saudaraku-, kita ikhlashkan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai ridho Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memperbaiki aqidah dan setiap amalan kaum muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.


Rujukan:

  • Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
  • I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
    At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
  • Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.
****
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com

The post Niat Ketika Ingin Beramal appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/niat-ketika-ingin-beramal/feed/ 0
Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia http://www.mumtaz.web.id/tanda-seseorang-beramal-untuk-tujuan-dunia/ http://www.mumtaz.web.id/tanda-seseorang-beramal-untuk-tujuan-dunia/#respond Sun, 01 Oct 2017 08:23:36 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1760 MUMTAZ.web.id – Tanda seseorang beramal untuk tujuan dunia. Al Bukhari membawakan hadits dalam Bab “Siapa yang menjaga diri dari fitnah harta”. Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah hamba dinar, dirham, qothifah dan khomishoh. Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridho, dia akan celaka dan […]

The post Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Tanda seseorang beramal untuk tujuan dunia. Al Bukhari membawakan hadits dalam Bab “Siapa yang menjaga diri dari fitnah harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Celakalah hamba dinar, dirham, qothifah dan khomishoh. Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridho, dia akan celaka dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari). Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba dinar, dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadits tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba dinar, dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya: “Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak ridho (murka), dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik sebagaimana dalam firman Allah,

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia ridho. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar, “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rizki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan sholehnya.

Adapun seorang mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak ridho jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barangsiapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits dari ‘Umar bin Khottob,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan, “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan, “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini di mana engkau tidak merasa mulia dengannya dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah dan janganlah hatimu bergantung padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan sholehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan sholehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia ridho. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia ridho karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya padahal dia sudah gemar melakukan amalan sholeh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba dinar, hamba dirham dan hamba pakaian.

 

 


Rujukan:

Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com

The post Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/tanda-seseorang-beramal-untuk-tujuan-dunia/feed/ 0
Sedekah Hanya Untuk Memperlancar Rizki http://www.mumtaz.web.id/sedekah-hanya-untuk-memperlancar-rizki/ http://www.mumtaz.web.id/sedekah-hanya-untuk-memperlancar-rizki/#respond Fri, 29 Sep 2017 08:22:15 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1757 Amat disayangkan, banyak sedekah hanya untuk memperlancar rizki Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan

The post Sedekah Hanya Untuk Memperlancar Rizki appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Amat disayangkan, banyak sedekah hanya untuk memperlancar rizki Itulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memperlancar rizki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan Amalan Sholeh Hanya Mengharap Keuntungan Dunia, Sungguh Akan Sangat Merugi

Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu barangsiapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan akhirat.

Yang dimaksud “perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan sholeh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rizki semakin lancar dan karir terus meningkat. Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya), “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di akhirat, mereka tidak akan memperoleh pahala karena mereka dalam beramal tidak menginginkan akhirat. Ingatlah, balasan akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah sehingga ketika di akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memperlancar rizki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memperoleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan, “Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)
Hanya Beramal Untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagianpun Di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa senin-kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di akhirat? Sungguh di akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memperoleh balasan di akhirat disebabkan amalannya yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di akhirat dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.

Allah Ta’ala berfirman,

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas, “Barangsiapa yang mencari keuntungan di akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya karena tujuan akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai akhirat sama sekali, maka balasan akhirat tidak akan Allah beri dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baiaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memperoleh satu bagian pun di akhirat. ”

 


Rujukan:

Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.
Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com

The post Sedekah Hanya Untuk Memperlancar Rizki appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/sedekah-hanya-untuk-memperlancar-rizki/feed/ 0
Keutamaan Puasa Muharam http://www.mumtaz.web.id/keutamaan-puasa-muharam/ http://www.mumtaz.web.id/keutamaan-puasa-muharam/#respond Tue, 26 Sep 2017 10:46:31 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1725 MUMTAZ.web.id – Kabar gembira mengenai keutamaan puasa Muharram . Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: (…فَجَعَلَهُنَّ حُرُماً وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ وَاْلأَجْرُ أَعْظَمُ.) “…Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan soleh dan pahala juga lebih besar.” (Tafsir Ibnu Abi […]

The post Keutamaan Puasa Muharam appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Kabar gembira mengenai keutamaan puasa Muharram . Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

(…فَجَعَلَهُنَّ حُرُماً وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَمُ، وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ وَاْلأَجْرُ أَعْظَمُ.)

…Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan soleh dan pahala juga lebih besar.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim VI/1791)

1. Kamis, 8 Muharram/ 28 Sept 2017
Hari diangaktnya amalan
(Puasa sunnah senin -kamis)

2. Jum’at, 9 Muharram/ 29 Sept 2017
Hari Tasu’a (Utk membedakan puasa’a muslim dan non muslim)

3. Sabtu, 10 Muharram/ 30 Sept 2017
Hari ‘asyuro (Pahala puasanya menghapus dosa setahun)

4. Ahad, 11 Muharram/ 1 Okt 2017
Puasa sehari setelah ‘asyuro (khilaf d antara ulama ada yg melemahkan.. Mayoritas menganjurkan)

5. Senin, 12 Muharram/ 2 Okt 2017
Hari diangkatnya amalan, (Puasa sunnah senin -kamis)

6. Selasa, 13 Muharram/ 3 Okt 2017
Puasa hari pertama (Ayamul bidh)

7. Rabu, 14 Muharram/ 4 Okt 2017
Puasa hari kedua (Ayamul bidh)

8. Kamis, 15 Muharram/ 5 Okt 2017
Puasa hari ketiga (Ayamul bidh)

 

Catat Tanggalnya ya…!!!

Rasulallah bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukan suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

The post Keutamaan Puasa Muharam appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/keutamaan-puasa-muharam/feed/ 0
Sejarah Zombie, Sang Komandan Islam yang Gagah dan Pemberani http://www.mumtaz.web.id/sejarah-zombie-sang-komandan-islam-yang-gagah-dan-pemberani/ http://www.mumtaz.web.id/sejarah-zombie-sang-komandan-islam-yang-gagah-dan-pemberani/#respond Sun, 17 Sep 2017 19:33:22 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1719 Sejarah Zombie, Sang Komandan Islam yang Gagah dan Pemberani ‘Si Pahlawan Islam’. Kebanyakan dari kita belum mengetahui bahwa zombie merupakan sosok pahlawan islam yang telah berjasa menghidupkan agama islam di wilayah Amerika Selatan, tepatnya di Brazil.

The post Sejarah Zombie, Sang Komandan Islam yang Gagah dan Pemberani appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Sejarah Zombie, Sang Komandan Islam yang Gagah dan Pemberani ‘Si Pahlawan Islam’ dari tulisan Jihad al-Turbanli berjudul “Miatu min Udzoma’ Ummah al-Islam Ghoiru Majro at-Tarikh.” Kebanyakan dari kita belum mengetahui bahwa zombie merupakan sosok pahlawan islam yang telah berjasa menghidupkan agama islam di wilayah Amerika Selatan, tepatnya di Brazil.

Selain komandan pasukan Islam, secara bertahap, Zombie bersama para ulama setempat sukses mendirikan sebuah Daulah Islamiyah di Brazil.

Di abad ke 16, tepatnya sekitar tahun 1550 Masehi, Islam mulai masuk ke Brazil. Ketika itu, bangsa Portugis memasukkan budak-budak Afrika ke negara penghasil kopi tersebut sebagai tenaga pekerja di kebun tebu.

Mayoritas budak-budak Afrika itu beragama Islam, sehingga sejak saat itu banyak sekali Muslim dan Muslimah yang tinggal di Brazil.

Berjalannya waktu, jumlah muslim di Brazil semakin banyak. Selain para pendatang, penduduk asli juga mulai berbondong-bondong masuk Islam, menjadi seorang Mualaf.

apiStatus strata kaum Muslim pun semakin kuat, dan tak hanya berprofesi sebagai pekerja tebu.

Saat posisi Islam di Brazil menguat, tentara Salib dan pasukan Salibis membunuh para Ulama dan penyebar Islam serta menghancurkan budaya Islam di Brazil.

Pasukan Salibis berusaha menghancurkan Islam hingga ke akar-akarnya. Mereka menganggap program mereka sudah berhasil, dan Islam sudah musnah di Amerika Selatan.

Dalam kondisi mengkhawatirkan hancurnya peradaban Islam di Brazil pada 1643 silam, muncullah pejuang Islam.

Dengan semangat menegakkan syariah Islam, Zombie mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil setelah sebelumnya berdakwah serta syiar Islam ke berbagai pelosok di wilayah Brazil.

Selain itu, Zombie juga mengajak para tokoh dan pimpinan di daerah terpencil untuk masuk Islam.

Tentara Salibis yang mengira Islam di Brazil telah musnah, sontak tersentak. Rupanya Islam belum mati di negara Samba.

Zombie kembali menghidupkan serta melestarikan ajaran Rasulullah SAW di Brazil.

Oleh karena itu, pasukan Salibis bersama tentara Salib langsung menjadikan Zombie sebagai target pembunuhan. Mengetahui perkembangan yang luar biasa dari Islam, pihak Portugis melancarkan peperangan kepada negara kecil yang sedang berkembang di Benua Amerika itu.

Dan rupanya, Zombie tidak hanya dimusuhi di kala itu. Namanya juga diputarbalikkan faktanya di abad modern ini.

Penjajah Barat mencoba menyebarkan wajah (image) Zombie karena kekhawatiran mereka akan munculnya sosok seperti Zombie di Benua Amerika Selatan.

Warga dunia dipaksa takut dengan penggambaran sosok Zombie yang ditampilkan oleh musuh-musuh Islam sebagai makhluk perusak, kurus dan buruk rupa.

Padahal, fakta sebenarnya kaum Imperialis ingin kembali menghancurkan sejarah bangkitnya Ke-Islaman yang telah tumbuh subur di dunia ini, sebagaimana mereka menghancurkan Islam di Brazil saat itu.

Sumber: www.arah.com

The post Sejarah Zombie, Sang Komandan Islam yang Gagah dan Pemberani appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/sejarah-zombie-sang-komandan-islam-yang-gagah-dan-pemberani/feed/ 0
Cara Membersihkan najis, Berapa Kali Pencucian? http://www.mumtaz.web.id/cara-membersihkan-najis-berapa-kali-pencucian/ http://www.mumtaz.web.id/cara-membersihkan-najis-berapa-kali-pencucian/#respond Fri, 08 Sep 2017 08:58:52 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1708 Cukup mencuci najis yang ada pada badan, pakaian, tempat atau lainnya sampai najis yang ada hilang karena syari’at tidak menyaratkan mencuci najis dengan

The post Cara Membersihkan najis, Berapa Kali Pencucian? appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Cara Membersihkan najis, Berapa Kali Pencucian ya?

Cukup mencuci najis yang ada pada badan, pakaian, tempat atau lainnya sampai najis yang ada hilang karena syari’at tidak menyaratkan mencuci najis dengan bilangan tertentu kecuali pada najis anjing. Disyaratkan untuk najis anjing dicuci tujuh kali, salah satunya dengan debu.

Penjelasan:

Tidak ada dalil perintah untuk pencucian najis dengan bilangan tertentu kecuali pada jilatan anjing. Dalam penyebutan najisnya darah haidh dan najisnya kencing, tidak disebutkan pencucian dengan bilangan tertentu.

Jika ada najis pada lantai atau tanah, maka cukup menghilangkannya dengan disiram atau diguyur dengan air hingga hilang warna dan bau najis. Seperti disebutkan dalam hadits kencingnya Arab Badui, di mana setelah ia kencing, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengguyur kencingnya dengan air. (HR. Bukhari, no. 221 dan Muslim, no. 284)

Najisnya Anjing

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا

“Jika anjing minumm di salah satu bejana di antara kalian, maka cucilah bejana tersebut sebanyak tujuh kali.” (HR. Bukhari, no. 172 dan Muslim, no. 279). Dalam riwayat lain disebutkan, “Yang pertama dengan tanah (debu).” (HR. Muslim, no. 279)

Dalam hadits ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anjing menjilat (walagho) di salah satu bejana kalian, cucilah sebanyak tujuh kali dan gosoklah yang kedelapan dengan tanah (debu).” (HR. Muslim, no. 280).

The post Cara Membersihkan najis, Berapa Kali Pencucian? appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/cara-membersihkan-najis-berapa-kali-pencucian/feed/ 0
Potong Kuku Saat Qurban, Apakah Qurbannya Tidak Sah? http://www.mumtaz.web.id/potong-kuku-saat-qurban-apakah-qurbannya-tidak-sah/ http://www.mumtaz.web.id/potong-kuku-saat-qurban-apakah-qurbannya-tidak-sah/#respond Wed, 23 Aug 2017 16:05:29 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1693 MUMTAZ.web.id – Perihal larangan potong kuku saat qurban atau sebelumnya, apakah Qurbannya Tidak Sah? Pertama, ketentuan larangan memotong rambut dan kuku bagi yang hendak berqurban, berlaku jika yang bersangkutan sudah memiliki niat untuk berqurban dan telah masuk tanggal 1 Dzulhijah. Ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila telah […]

The post Potong Kuku Saat Qurban, Apakah Qurbannya Tidak Sah? appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Perihal larangan potong kuku saat qurban atau sebelumnya, apakah Qurbannya Tidak Sah?

Pertama, ketentuan larangan memotong rambut dan kuku bagi yang hendak berqurban, berlaku jika yang bersangkutan sudah memiliki niat untuk berqurban dan telah masuk tanggal 1 Dzulhijah. Ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila telah masuk sepuluh pertama Dzulhijah, dan kalian ingin menyembelih qurban maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1977).

Karena itu, jika ada seorang muslim yang baru berniat qurban setelah masuk tanggal 7 Dzulhijah, maka dia mulai tidak potong kuku atau rambut, sejak tanggal itu.

Keterangan Syekh Abdullah Al-Jibrin yang dikutip dalam Syabakah Al-Alukah, beliau menyatakan:

“Siapa yang berkeinginan untuk berqurban di pertengahan 10 Dzulhijah maka dia dilarang memotong kuku dan rambutnya di sisa harinya. Dan tidak masalah dengan tindakannya memotong kuku dan rambut di awal Dzulhijah, sebelum dia berniat untuk berqurban.”

Kedua, tidak ada hubungan antara larangan memotong kuku atau rambut dengan keabsahan qurban. Artinya, sekalipun ada orang yang memotong rambut dan kukunya, baik karena tidak tidak tahu atau dilakukan dengan sengaja maka qurban yang dia lakukan tetap sah. Lebih dari itu, orang yang melanggar larangan hadis di atas, jangan sampai menjadikannya sebagai alasan untuk membatalkan rencana qurbannya. Syekh Abdullah Al-Jibrin mengatakan:

“Demikian pula, jangan sampai seseorang meninggalkan rencana qurban karena dia telah memotong rambut atau kukunya, meskipun dilakukan dengan sengaja.” (Majlis Al-Alukah)

Hal yang sama juga disampaikan oleh Syekh Al-Jarullah. Setelah beliau menjelaskan larangan memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berqurban, beliau mengatakan:

“Hanya saja, wajib untuk diketahui, bahwa orang yang memotong rambut dan kukunya, jangan menjadikannya sebagai sebab untuk meninggalkan rencana qurbannya. Dan dia wajib memohon ampun kepada Allah dan bertaubat (karena melanggar larangan memotong kuku).” (As-ilah Wa Ajwibah Muhimmah, hlm. 33).

Allahu a’lam.

Artikel oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

The post Potong Kuku Saat Qurban, Apakah Qurbannya Tidak Sah? appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/potong-kuku-saat-qurban-apakah-qurbannya-tidak-sah/feed/ 0
Adab Mulia Istri Shalihah di Rumah http://www.mumtaz.web.id/adab-mulia-istri-shalihah-di-rumah/ http://www.mumtaz.web.id/adab-mulia-istri-shalihah-di-rumah/#respond Mon, 14 Aug 2017 01:33:44 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1688 Tidak halal seorang istri berpuasa sedang suaminya menyaksikannya kecuali dengan izinnya, dan tidak boleh seorang istri mengizinkan seseorang masuk di rumahnya kecuali dengan izinnya

The post Adab Mulia Istri Shalihah di Rumah appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Adab Mulia Istri Shalihah di Rumah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

“Tidak halal seorang istri berpuasa sedang suaminya menyaksikannya kecuali dengan izinnya, dan tidak boleh seorang istri mengizinkan seseorang masuk di rumahnya kecuali dengan izinnya, dan apa saja yang disedekahkan oleh istrinya tanpa perintah suaminya maka suaminya akan mendapatkan separuh pahalanya.”

[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

The post Adab Mulia Istri Shalihah di Rumah appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/adab-mulia-istri-shalihah-di-rumah/feed/ 0
Hadits Mengenai Puasa Rajab http://www.mumtaz.web.id/hadits-mengenai-puasa-rajab/ http://www.mumtaz.web.id/hadits-mengenai-puasa-rajab/#respond Mon, 07 Aug 2017 07:36:37 +0000 http://www.mumtaz.web.id/?p=1680 Hadits mengenai puasa Rajab dan diantara kesalahan dalam permasalahan puasa Rajab adalah orang yang memahami bahwa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah melarang puasa di bulan Rajab atau membid’ahkannya secara mutlak

The post Hadits Mengenai Puasa Rajab appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
MUMTAZ.web.id – Hadits mengenai puasa Rajab dan diantara kesalahan dalam permasalahan puasa Rajab adalah orang yang memahami bahwa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah melarang puasa di bulan Rajab atau membid’ahkannya secara mutlak, dan tidak jarang kesalahan memahami tersebut ditambah dengan kesalahan berikutnya yang lebih besar, yaitu menjelek-jelekan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan memberi gelar “Wahabi” dan gelar-gelar lainnya yang mereka anggap jelek.

Padahal yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits khusus tentang puasa Rajab adalah para ulama yang hidup jauh sebelum Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan ulama besar dari kalangan Mazhab Syafi’i, yaitu Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i rahimahullah memiliki buku khusus yang menjelaskan tentang kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits tersebut yang beliau beri judul “Tabyinul ‘Ajab bi Maa Waroda fi Fadhli Rojab”.

Dan kesalahan tersebut berasal dari kesalahan memahami ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ucapan para ulama Ahlus Sunnah lainnya yang semisal tentang hadits-hadits puasa di bulan Rajab secara khusus. Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) berkata,

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka seluruh haditsnya lemah, bahkan palsu, tidak ada seorang ahli ilmu pun yang berpegang dengannya, dan bukan pula termasuk kategori lemah yang boleh diriwayatkan dalam fadhail (keutamaan beramal), bahkan seluruhnya termasuk hadits palsu lagi dusta.” [Majmu’ Al-Fatawa, 25/290-291]

Sebagian orang menyangka bahwa beliau melarang puasa Rajab secara mutlak dan membid’ahkannya, sebagai jawaban atas kesalahpamahaman ini:

Pertama: Beliau hanyalah menjelaskan bahwa hadits-hadits khusus yang berbicara tentang puasa Rajab dan keutamaannya adalah lemah dan palsu, sebagai peringatan untuk tidak menyebarkannya, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan dengan keras sekali,

“Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di neraka.” [Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
“Barangsiapa menyampaikan hadits atas namaku padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]

Dan bukan hanya beliau yang menjelaskan kelemahan dan kepalsuan hadits-hadits tersebut, masih banyak ulama ahli hadits yang lainnya, diantaranya:

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,
“Dan semua hadits yang berbicara tentang puasa Rajab dan shalat pada sebagian malamnya adalah dusta yang diada-adakan.” [Al-Manaarul Muniif: 170]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Tidak ada satu hadits shahih pun yang berbicara tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula puasanya, tidak pula puasa khusus di hari tertentu dan tidak pula sholat malam di malam yang khusus.” [Tabyinul ‘Ajab: 11]

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

The post Hadits Mengenai Puasa Rajab appeared first on MUMTAZ.web.id.

]]>
http://www.mumtaz.web.id/hadits-mengenai-puasa-rajab/feed/ 0